"Sesungguhnya, terlalu perhatiannya orang tua kita adalah gangguan terindah yang pernah bisa kita terima".-Raditya Dika
Kutipan kalimat tersebut membuatku berfikir banyak sekali, terkadang memang perlakuan orang tua tidak selalu diterima baik oleh anaknya, bukan tujuannya yang salah tapi kadang caranya yang salah. Kehidupan anak dan orang tua memang selalu memiliki lika-liku tersendiri, banyak perdebatan, pertengkaran serta ego masing masing yang sama-sama tidak mau kalah. Entah apapun yang diperdebatkan, ketika sudah mulai beranjak dewasa seperti sekarang itu tidak lagi bisa ditemui.
Saat diriku masih didalam kandungan engkaulah yang sibuk membisikkan doa sembari mengelus perutmu; menunggu lahir; tak sabar menungguku hadir walau hampir meregang nyawa demi menghadirkanku ke muka bumi. Dan ketika aku lahir engkau tidak pernah mengeluh membuatkan susu pada tengah malam, tidak sama sekali. Seiring berjalannya waktu engkau tidak pernah lupa mendoakanku dalam setiap sembayangmu, meski aku sering lupa untuk mendoakanmu.
Tatkala kecil dulu aku sering kesal denganmu karena memberikan hadiah yang tidak sesuai aku ingini, tetapi aku tidak tau bahwa engkau membungkusnya dengan penuh kasih. Padahal yang kau harap tidak lebih hanya ingin membuat senang dan mendapat satu kecupan manis dariku. Engkau adalah orang yang selalu berkata "jangan bilang tidak bisa, belum dicoba kok takut gagal". Engkau adalah orang yang membuatku selalu semangat, berfikir lebih bijak lagi dan lebih baik lagi.
Diusia yang semakin beranjak dewasa aku memahami bagaimana rasa sayang yang engkau berikan. Darimu aku tau bahwa rasa sayang yang sesungguhnya adalah membebaskan. Tidak pernah sekalipun ada kalimat penolakan darimu saat aku mengutarakan apa yang menjadi impianku. "Ya gapapa, kamu sudah dewasa sudah bisa mentukan kemana arah hidupmu kelak, silahkan memilih dan bertanggung jawab atas pilihanmu, mama cuma bisa mendoakan" kalimat yang sering terucap dari bibirmu. Mengetahui uban dan keriputmu sungguh aku membenci itu. Betapa jarangnya aku berterima kasih atas segala perjuangamu atas diriku hingga aku bisa menjadi diriku hari ini. Aku terlalu sibuk memikirkan diriku, terlalu sibuk dengan apa yang menjadi rutinitasku bahkan sekedar menanyakan kabarmu saja aku tak sempat.
Mama, maaf untuk segalanya . Kelak jika usiamu sudah renta ijinkan aku membalas budi walau dayaku tak mungkin menandingi. Tidak peduli bagaimanapun dunia dan keadaan saat ini, engkau akan tetap menjadi cinta pertamaku. Tetap ada tempat dihatiku untukmu dan akan tetap ada perlakuan-perlakuan istimewa dari anakmu ini kepadamu. Tetap sehat ya, semoga dilimpahkan rejekinya, tetap sabar ngadepin anak-anakmu yang mungkin sampai saat ini belum bisa membahagiankan dirimu seutuhnya. Terima kasih untuk segala doa baikmu, terima kasih untuk kontribusimu dan terima untuk kasih sayangmu selama ini. Peluk dan dekap tertulus dariku, I miss you :)
Salam dariku lelaki yang suka tertawa. Berbahagialah atas pilihanmu, sehat sehat selalu :).

Comments
Post a Comment